Rabu, 19 November 2008

6 Hak Seorang Muslim atas Muslim lainnya

Penulis : Marsahid Agung Sasongko

KotaSantri.com : Islam datang untuk mempersatukan hati dengan hati, menyusun barisan dengan tujuan menegakkan bangunan yang tunggal dan menghindari faktor-faktor yang dapat menimbulkan perpecahan, kelemahan, sebab-sebab kegagalan dan kekalahan. Sehingga mereka yang bersatu itu memiliki kemampuan untuk merealisasi tujuan luhur dan niat sucinya :

1. Apabila engkau menjumpainya, engkau berikan salam kepadanya.
2. Apabila ia mengundangmu, engkau memperkenankan undangannya.
3. Apabila ia meminta nasehat, engkau menasehatinya.
4. Apabila ia bersin dan memuji Allah, hendaklah engkau mentasymitkannya (berdo'a untuknya).
5. Apabila ia sakit, hendaklah engkau menjenguknya.
6. Apabila ia mati, hendaklah engkau antarkan jenazahnya. (HR. Muslim dan Tirmidzi)

Mengucapkan Salam

Awali pertemuan dengan sesama muslim agar hati mereka terikat satu dengan yang lainnya hingga timbulnya rasa saling menyinta dimulai dengan mengucapkan dan menyebarkan salam. Sabda Rasulullah SAW, "Demi Dzat yang diriku dalam genggamanNya, mereka tidak masuk surga sehingga mereka beriman, dan mereka tidak beriman sehingga mereka saling mencinta. Maukah kamu aku tunjukkan sesuatu yang jika kamu mengerjakannya kamu saling mencintai. Sebarkan salam di kalangan kamu."

Salam yang merupakan alat penghormatan kaum muslimin lebih menegaskan bahwa agama mereka adalah agama damai dan aman, serta mereka adalah penganut salam (perdamaian) dan pencinta damai. Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah menjadikan salam sebagai penghormatan bagi umat kami dan jaminan keamanan untuk kaum zimmah kami."

Dan seseorang tidak layak memulai pembicaraan kepada sesamanya sebelum ia memulainya dengan ucapan salam, karena salam adalah ungkapan rasa aman dan tidak ada pembicaraan sebelum adanya rasa aman. Rasulullah SAW bersabda, "Ucapkan salam sebelum memulai berbicara."

Memenuhi Undangan

Seorang muslim yang mengundang saudaranya, maka ia berhak didatangi. Oleh karena itu, kewajiban yang diundang adalah mendatangi undangan tersebut sebagaimana sabda Rasulullah SAW, "Penuhilah undangan ini jika kamu diundang."

Undangan yang diberikan dari sesama muslim menunjukkan penghormatan dan perhatian yang besar kepada saudaranya yang diundang tersebut, sehingga bagi yang tidak memenuhi undangan, tentu saja menyebabkan kekecewaan. Mengabaikan undangan disamakan dengan pembangkangan kepada Allah dan Rasul.

Begitu juga sebaliknya, saat seseorang yang datang tanpa diundang, diumpamakan seperti pencuri, karena kedatangannya tidak diinginkan oleh yang mengundang, seperti yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, "Barangsiapa diundang kemudian dia tidak memenuhi undangan tersebut, maka ia telah membangkang pada Allah dan RasulNya. Dan barangsiapa masuk tanpa diundang, maka ia masuk sebagai pencuri."

Memberi Nasehat

Memberi nasehat kepada saudara muslim yang memintanya, hendaklah dipenuhi. Karena nasehat ini dapat mendorong saudaranya ke arah kebaikan. Nasehat yang tulus akan berbekas dan berpengaruh, sehingga dapat masuk ke dalam relung hati yang terbuka untuk menerimanya.

Bagi yang menasehati saudaranya, hendaknya ia mengerjakan apa yang diucapkan, mengamalkan apa yang dinasehatkan, sebab nasehat yang tidak diamalkan dan tidak dijiwai, tidak akan berbekas pada jiwa yang dinasehati.

Dan sesungguhnya agama ini adalah nasehat sebagaimana sabda Rasulullah SAW, "Agama itu nasehat." Kami bertanya kepada beliau, "Nasehat kepada siapa?" Beliau menjawab, "Terhadap Allah, Al-Qur'an, RasulNya, pemimpin-pemimpin, dan seluruh kaum Muslimin."

Mendo'akannya Ketika Bersin

Mendo'akan saudara yang bersin merupakan wujud perhatian dan kasih sayang terhadap saudaranya, sebab tatkala saudaranya itu bersin dan mengucapkan pujian kepada penciptanya, "Alhamdulillah," serta merta ia yang mendengarkannya menanggapi dengan mengucapkan, "Yarhamukallah" (Semoga Allah memberimu Rahmat), ia merupakan ucapan simpati dan do'a atas kondisi saudaranya yang senantiasa memuji Allah dalam setiap keadaan, khususnya saat ia bersin.

Maka mendo'akan dengan Rahmat, layak diberikan pada saudaranya yang telah memuji Allah tersebut. Saat mendapatkan do'a Rahmat, maka saudaranya itu hendaknya juga membalas do'a bagi yang telah mendo'akannya dengan mengucapkan, "Yahdini wayahdikumullah wa yuslih balakum" (Semoga Allah memberiku dan engkau petunjuk dan semoga Allah memperbaiki keadaanmu).

Do'a tersebut cerminan telah terjalinnya ikatan hati antara sesama muslim yang senantiasa menghendaki kebaikan bagi saudaranya.

Menjenguknya Ketika Sakit

Merupakan kewajiban umat Islam untuk mengunjungi saudaranya yang sakit. Hal ini dapat meringankan beban derita si sakit yang merana sendirian dan merasa terasing. Kedatangannya hendaknya dapat meringankan beban si sakit dan dapat menghiburnya.

Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya Allah berfirman pada hari kiamat, "Wahai bani Adam, Aku sakit dan kamu tidak menjengukKu." Ia berkata, "Wahai Rabb-ku, bagaimana bisa aku menjengukMu sedang Engkau adalah Tuhan sekalian Alam?" Allah menjawab, "Tidakkah kamu mengetahui bahwa seorang hambaKu fulan sakit dan kamu tidak menjenguknya? Tidakkah kamu mengetahui bahwa andaikata kamu menjenguknya, kamu mendapatiKu di sisinya?" (HR. Muslim).

Rasulullah SAW memberikan motivasi kepada umatnya agar menjenguk orang sakit dengan menempatkannya di antara buah-buahan surga, sabda Rasulullah SAW, "Sesungguhnya seorang muslim apabila menjenguk saudaranya sesama muslim, maka ia tetap berada di antara buah-buahan surga yang siap dipetik, sampai akhirnya ia kembali." (HR. Muslim).

Sangat indah sekali ajaran Islam, setiap kebaikan yang dilakukan untuk orang lain tidak luput balasannya di sisi Allah SWT.

Mengiringi Jenazahnya

Persaudaraan sejati tidak sebatas pada alam dunia saja, saat ajal menjemput, saudaranya ikut berta'ziyah dan mengiringi jenazahnya serta menyaksikan jasad saudaranya dimasukkan ke dalam liang lahat, iringan terakhir di dunia dan kelak akan berjumpa di surganya, Insya Allah.

Allah SWT bahkan akan memberikan pakaian kehormatan bagi mu'min yang berta'ziyah kepada saudaranya sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Majah dari Amr bin Haram, "Tiadalah di antara mu'min berta'ziyah kepada saudaranya yang mendapat musibah, kecuali Allah mengenakan pakaian kehormatan pada hari kiamat."